Pages

ZONASI VEGETASI BERDASARKAN KETINGGIAN TEMPAT PADA KAWASAN HUTAN TUWANWOWI KABUPATEN MANOKWARIZONASI VEGETASI BERDASARKAN KETINGGIAN TEMPAT PADA KAWASAN HUTAN TUWANWOWI KABUPATEN MANOKWARI Usulan Penelitian Oleh Luis Gasper Mirino 2008 55 080 PROGRAM STUDI KEHUTANAN JURUSAN KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS NEGERI PAPUA MANOKWARI 2012 ZONASI VEGETASI BERDASARKAN KETINGGIAN TEMPAT PADA KAWASAN HUTAN TUWANWOWI KABUPATEN MANOKWARI Oleh Luis Gasper Mirino 2008 55 080 Usulan Penelitian Untuk Memenuhi Syarat Melaksanakan Penelitian Guna Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan Program Pendidikan Strata Satu Program Studi Kehutanan PROGRAM STUDI KEHUTANAN JURUSAN KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS NEGERI PAPUA MANOKWARI 2012


ZONASI VEGETASI BERDASARKAN KETINGGIAN TEMPAT PADA KAWASAN HUTAN TUWANWOWI 
KABUPATEN MANOKWARI



Usulan Penelitian


Oleh
Luis Gasper Mirino
2008 55 080





 













PROGRAM STUDI KEHUTANAN
JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS NEGERI PAPUA
MANOKWARI
2012
ZONASI VEGETASI BERDASARKAN KETINGGIAN TEMPAT PADA KAWASAN HUTAN TUWANWOWI 
KABUPATEN MANOKWARI





Oleh

Luis Gasper Mirino
2008 55 080






Usulan Penelitian
Untuk Memenuhi Syarat Melaksanakan Penelitian
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan
Program Pendidikan Strata Satu
Program Studi Kehutanan











PROGRAM STUDI KEHUTANAN
JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS NEGERI PAPUA
MANOKWARI
2012





 
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan hujan tropis memiliki keanekaragam tumbuhan yang sangat tinggi, iklim selalu lembab, curah hujan yang tinggi dan produktivitas tumbuhan yang sangat tinggi.  Produktivtas tumbuhan yang tinggi terjadi karena ekosistem hutan hujan tropis memiliki sistem daur hara sangat ketat, tahan kebocoran dan berlangsung cepat. 
Sebagai satu ekosistem, hutan hujan tropis sangat dipengaruhi oleh komponen lingkungan seperti tanah, iklim, ketinggian tempat dan sumberdaya yang berevolusi dari waktu ke waktu pada suatu tempat tertentu.  Menurut Bratawinata (2001) salah satu komponen lingkungan adalah ketinggian tempat, dimana ketinggian tempat pada kawasan hutan tropis memunculkan zonasi-zonasi kehidupan vegetasi, dimana zonasi-zonasi tersebut mewakili seluruh zonasi-zonasi yang ada di dunia.  Hal ini dapat dilihat dari beberapa kasus diantaranya zonasi hutan tropis dataran rendah kehidupannya mirip dengan kehidupan di daerah tropika, daerah sub pegunungan identik dengan zonasi sub tropika, zonasi pegunungan mirip dengan zonasi kehidupan daerah temperete (4 musim), sub alfin/alfin identik dengan zonasi kawasan bureal dan zonasi nival mirip dengan zonasi kehidupan vegetasi daerah kutub.
Ketinggian tempat sangat mempengaruhi kondisi iklim seperti : suhu, kelembaban udara dan curah hujan, dimana ketiga komponen tersebut berpengaruh terhadap vegetasi yang ada. Masing-masing zona ketinggian tempat memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik dari segi floristik, komposisi maupun struktur. Selain ketinggian tempat, munculnya zonasi vegetasi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya hasil kompetisi diantara tumbuhan yang ada, morfologi dari tumbuhan itu sendiri, dan pola sebaran dari masing-masing tumbuhan (Irwanto, 2010).  
Vegetasi merupakan salah satu komponen biotik yang menempati suatu habitat seperti hutan yang merupakan kumpulan komponen biotik sebagai keseluruhan komunitas tumbuhan. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah banyak dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor.
Para ekolog memandang sistematika tumbuhan cenderung melakukan pendekatan secara florestik dalam mengungkapkan suatu vegetasi, yaitu berupa komposisi dan struktur tumbuhan pembentuk vegetasi tersebut.  Menurut Van Steenis, (1957) dalam Soerianegara dan Indrawan (1988) sistem pengklasifikasian vegetasi yang dianut Indonesia masih mengacu pada sistem klasifikasi yang disebut sistem alami berdasarkan pada perbedaan fisiognomis menurut perbedaaan iklim basah dan bermusim, perbedaan edafis dan perbedaan altitudinal.
Papua sebagai salah satu pulau yang memiliki luasan hutan hujan tropis salah satu terbesar di dunia dengan kekayaan sumber daya hutan yang tinggi menyimpan berbagai keanekaragaman hayati yang perlu digali untuk kepentingan ilmu pengetahuan.   Salah satu kawasan hutan yang masih belum banyak memiliki informasi ilmu pengetahuan adalah kawasan hutan diklat Tuwanwowi, dimana kawasan hutan ini merupakan sebagian kecil dari hutan hujan tropis Papua dengan tipe hutan hujan tropis dataran rendah, memiliki struktur dan komposisi jenis yang beragam dengan kondisi topografi mulai dari datar hingga berbukit.
Masalah
Struktur dan komposisi jenis vegetasi pada hutan alam tropis sangatlah kompleks. Kompleksitas tersebut terlihat jelas bila dilakukan pengamatan dilapangan dengan cara memotong garis kontur (secara vertical). Pada berbagai jarak tertentu akan nampak jenis-jenis pohon penyusunnya baik secara mengelompok maupun soliter.
Kawasan hutan Diklat Tuwanwowi merupakan salah satu tipe hutan hujan tropis dataran rendah, memiliki tipe vegetasi yang terdiri dari vegetasi di daerah landai sampai dengan vegetasi yang terdapat di bukit. Keragaman spesies vegetasi pohonnya sangat beragam. Akan tetapi, perbedaan ketinggian tempat dapat memunculkan zonasi-zonasi vegetasi yang jelas pada kawasan hutan tersebut. 
Apa saja perbedaan zonasi vegetasi pada setiap ketinggian tempat baik dari perspektif struktur dan komposisi maupun keragaman jenis merupakan informasi yang ingin dikaji dalam penelitian ini.
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1.      Mengetahui zonasi vegetasi yang membentuk tegakan hutan Tuwanwowi berdasarkan ketinggian.
2.      Mengetahui struktur dan komposisi tegakan
3.      Mengetahui keragaman jenis vegetasi hutan pada ketinggian tempat yang berbeda


Manfaat
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dan informasi bagi semua pihak terutama pihak-pihak yang ingin melaksanakan kegiatan-kegiatan analisis vegetasi atau kegiatan kehutanan lainnya, dan secara khusus kepada instansi teknis terkait yang mengelola areal hutan Tuwanwowi.



METODOLOGI PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian ini berlangsung selama kurang lebih 1 (satu) bulan yaitu dari tanggal ……. s/d ……….. 2012, yang berlokasi pada Kawasan Hutan Diklat Tuwanwowi Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat.
Objek Penelitian
Obyek dalam penelitian ini adalah jenis-jenis vegetasi pohon pada tingkatan semai, pancang, tiang dan pohon yang terdapat dalam Kawasan Hutan Diklat Tuwanwowi berdasarkan ketinggian lokasi.
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan antara lain : rol meter, parang, Global Positioning System (GPS), kamera digital, pita ukur, kompas, haga meter, tali raffia, papan lapangan dan alat tulis-menulis. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah tally sheet, dan buku identifikasi.
Variabel Penelitian
Variabel yang diamati terdiri atas variabel utama dan variabel pendukung. Variabel utama terdiri atas: Struktur tegakan (fase pertumbuhan) dan komposisi dari jenis penyusun tegakan.  Sedangkan variable pendukung terdiri keadaan umum lokasi penelitian berupa tanah, iklim dan lain-lain.
Metode dan Teknik Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik observasi lapang yang dilakukan dengan metode garis berpetak (Kusmana, 1997). Dimana menggunakan satu jalur tunggal membelah kontur, ukuran petak yang digunakan untuk tingkat pohon berdasarkan ukuran luas plot contoh minimum, 10 m x 10 m untuk tingkat tiang, 5 m x 5 m untuk tingkat pancang dan tingkat semai 2 m x 2 m. Jarak  antara petak ukur adalah 50 m. Panjang transek atau jalur memotong arah kontur kearah puncak kawasan hutan Diklat Tuwanwowi. Pada setiap petak pengamatan dilakukan pengukuran ketinggian menggunakan altimeter.
Tahapan Penelitian
1.      Penentuan luas plot contoh minimal berdasarkan pendekatan Kurva Spesies Area (KSA).
Langkah-langkah pembuatan  Kurva Spesies Area (KSA) adalah sebagai berikut :
a.       Pembuatan petak awal dengan ukuran 2 m x 2 m dimana petak ini diletakkan secara sengaja (purposive) pada zonasi yang menurut peneiliti mewakili seluruh jenis yang ada  (luas ukuran petak awal untuk KSA tergantung pada peneliti, yang penting adalah konsistensinya petak selanjutnya dibuat berukuran dua kali luas petak awal (Gambar 1.) (Marpaung, 2009)). Setelah plot awal terbentuk, selanjutnya dilakukan identifikasi semua jenis yang ada mulai dari tingkat semai pancang, tiang dan pohon.
b.      Selanjutnya dibuat petak dengan ukuran dua kali lebih besar dari petak awal yaitu 2 m x 4 m. Kemudian dilakukan identifikasi jenis yang ada, kemudian dilakukan pembandingan julah spesies dengan petak pertama untuk mendapatkan jumlah penambahan spesies. (Gambar 2.)
c.       Pembuatan petak selanjutannya dilakukan hingga penambahan individu ≤ 10 % (Departemen Kehutanan, 2004 dalam Octavia, dkk., 2008).




 
Gambar 2. Kurva Spesies Area


1.      Pembuatan plot contoh pada setiap zonasi
Setelah luas petak minimum KSA diperoleh, selanjutnya adalah menerapkan luas petak tersebut pada petak-petak pengamatan pada setiap zonasi pengamatan  menggunakan metode garis berpetak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini.



Keterangan :
A.    Petak pengamatan tingkat semai (2 m x 2 m)
B.     Petak pengamatan tingkat pancang (5 m x 5 m)
C.     Petak pengamatan tingkat tiang ( 10 m x 10 m)
D.    Petak pengamatan tingkat pohon ( ukuran petak berdasarkan luas petak KSA)
E.     Jarak antar petak
Gambar 3. Penerapan Luas Petak Minimum KSA Pada Setiap Zonasi
1.      Pengukuran Parameter Ekologi dalam setiap Zonasi
a.       Semai
Yang dimaksud dengan semai adalah permudaan mulai dari kecambah sampai anakan pohon dengan tinggi kurang dari 1.5 m. Parameter ekologi yang diamati pada setiap zonasi adalah :
§  Nama jenis (lokal dan botani)
§  Jumlah setiap jenis
b.      Pancang
Pancang adalah permudaan pohon sampai dengan tinggi 1.5 m dengan diameter kurang dari 10 cm.  Parameter ekologi yang diamati adalah :
§  Nama jenis (lokal dan botani)
§  Jumlah setiap jenis
c.       Tiang
Tiang merupakan pohon muda dengan diameter 10 cm sampai dengan 20 cm.  Parameter ekologi yang diamati adalah :
§  Jenis
§  Jumlah setiap jenis
§  Diameter
§  Tinggi bebas cabang
§  Tinggi total
d.      Pohon
Semua tumbuhan berkayu dengan diameter lebih dari 20 cm dan mempunyai batang atau tangkai utama. Parameter yang diamati adalah :
§  Nama jenis (lokal dan botani)
§  Jumlah setiap jenis
§  Diameter
§  Tinggi bebas cabang
§  Tinggi total
2.      Penghitungan Keanekaragaman Jenis
Untuk mengetahui keanekaragaman jenis selanjutnya data yang diperoleh dari hasil pengamatan diolah menggunakan Indeks Keanekaragaman (H+). Keanekaragaman jenis diperlukkan untuk menunjukkan tingkat kestabilan pada suatu tingkat pertumbuhan.   Keanekaragaman jenis dapat dihitung menggunakan rumus Shanon dan Wiener (1949) dalam Bratawinata (2001) dengan persamaan sebagai berikut :
Dimana :
H+        : Indeks Keanekaragaman
ni         : Jumlah individu tiap jenis
N         : Jumlah individu seluruh jenis
 Klasifikasi nilai indeks keanekaragaman Shanon-Wiener (1949) dalam Haryadi, dkk.(2010) adalah sebagai berikut :



Tabel.1. Klassifikasi Nilai Indeks Keanekaragam Shanon-Wiener
Nilai Indeks
Kategori
> 3
Keanekaragaman tinggi, penyebaran jumlah individutiap spesies tinggi dan kestabilan komunitas tinggi.
1 – 3
Keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individutiap spesies sedang dan kestabilan komunitas sedang
< 1
Keanekaragaman rendah, penyebaran jumlah individutiap spesies rendah dan kestabilan komunitas rendah

Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan metode garis berpetak, dimana pembuatan petak pada setiap petak pengamatan dikombinasikan dengan hasil luasan  petak KSA. Penentuan titik ikat didasarkan pada batas alam berupa sungai atau anak sungai atau berdasarkan peta dasar lokasi penelitian. Diawali dengan pembuatan jalur yang membelah kontur dengan arah / azimuth yang akan ditentukan dilapangan. Pada petak ukur ditetapkan jarak yang sama antara petak ukur yaitu 50 m.



Gambar. 3. Metode Garis Berpetak
Keterangan :
Petak A = Petak ukur semai (seedling) dengan luas 4 m²
Petak B = Petak ukur pancang (sapling) dengan luas 25 m²
Petak C = Petak ukur tiang (poles) dengan luas 100 m²
Petak D = Petak ukur pohon (trees) dengan luas disesuaikan dengan hasil KSA
E                        = Jarak antar petak (50 m)
Pengamatan dan pendataan vegetasi dilakukan dengan mencatat jenis pohon, diameter, tinggi bebas cabang, dan tinggi total pada fase tiang dan pohon. Sedangkan pada fase semai dicatat jumlah dan jenisnya per plot.
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Pengumpulam data primer meliputi:  diameter batang, tinggi bebas cabang, tinggi total dan nama ilmiah. deskripsi jenis dan pembuatan kunci determinasi jenis menggunakan blanko tally sheet, sedangkan data sekunder terdiri atas  keadaan umum kawasan hutan yang sedang dilakukan penelitian. Data-data primer yang dikumpulkan meliputi :
·         Perawakan
·         Batang (tipe, bentuk, kulit luar, warna dll)
·         Daun (tipe, bentuk, dan susunan)
·         Bunga
·         Buah
·         Habitat
Data sekunder terdiri atas keadaan umum lokasi penelitian, meliputi : batas wilayah, data demografi, jenis tanah, dan sebagainya.
Pengolahan Data
            Parameter kuantitatif yang digunakan dalam menghitung vegetasi pohon adalah :
Jumlah individu
Luas Petak contoh
 
1.      Kerapatan (K)                                      =
Kerapatan dari suatu  spsies
Kerapatan seluruh jenis
X 100 %
 
2.      Kerapatan Relatif (KR) (%)                =
Jumlah plot ditemukannya suatu jenis
Jumlah seluruh plot
 
3.      Frekuensi (F)                                       =
Frekuensi dari suatu  spsies
Frekuensi seluruh jenis
X 100 %
 
4.      Frekuensi Relatif (FR)  (%)                =
Jumlah bidang dasar
Luas Petak contoh
 
5.      Dominansi       (D)                               =
Dominansi dari suatu  spsies
Dominansi seluruh jenis
X 100 %
 
6.      Dominansi Relatif  (DR)(%)               =

7.      INP                                                     =  KR + FR + DR

Analisis Data
Data – data tersebut selanjutnya akan diolah atau dianalisis secara tabulasi dan hasilnya disajikan dalam bentuk gambar dan tabel.



DAFTAR PUSTAKA

Afandy, N.N. 2010. Sistem Analisis Metode Kuadrat dan Metode Kuarter. http://nanang14045.student.umm.ac.id/sistem-analisis-metode-kuadrat-dan-metode-kuarter/ (7 April 2010)

Anneahira. 2012. Hutan Tropis. http://www.anneahira.com/hutan-tropis.htm (7 April 2012)\

Arief, A. 1994. Hutan Hakikat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Bratawinata, A.A. 2001. Ekologi Hutan Hujan Tropis Dan Metode Analisis Hutan. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur. Makassar.

Haryadi, B., A. Miardini, Gunawan, B. D. Atmoko dan A. Boediyono. 2010. Analisis Kerentanan Tumbuhan Hutan akibat Perubahan Iklim (Variasi Musim & Cuaca Ekstrim). http://www.scribd.com/doc/53235319/15/Tabel-1-Klasifikasi-nilai-indeks-keanekaragaman-Shannon-Wiener-H%E2%80%99. (19 April 2012)

Indriyanto. 2008. Ekologi Hutan. Universitas Lambung Mangkurat Bandar Lampung. Lampung

Irwanto. 2010. Tipe – Tipe Hutan Tropis. http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/tipe-tipe-hutan-tropis.html.  (5 April 2012)

Kadri, W.  1992. Manual Kehutanan. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.

Kusmana, C. 1997. Ekologi Hutan Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Marpaung, B. 2009. Apa dan Bagaimana Mempelajari Analisa Vegetasi http://boymarpaung.wordpress.com/2009/04/20/apa-dan-bagaimana-mempelajari-analisa-vegetasi/. (19 April 2012)
Mueller-Dombois, D. dan Ellenberg, H. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. Canada.
Octavia, D., S. Andriani, M. A. Qirom dan F. Azwar. 2008. Keanekaragam Jenis Tumbuhan Sebagai Pestisida Alami di Savana Bekol Taman Nasional Baluran. Balai Penelitian Kehutanan Solo. Solo
Pemerintah Republik Indonesia. 1999. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999  tentang Kehutanan. Jakarta

Redjki, R.S. 2008. Kajian Pengelolaan Lingkungan Pada Kawasan Gunung Sindoru Sumbing. (Tesis). Universitas Diponegoro. Semarang

Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Manajemen Hutan . Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor

Wanggai, F. 2009. Manajemen Hutan. Pengelolaan Sumberdaya Hutan Secara Berkelanjutan. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar